Perjalanan Pendidikan Nasional

 



Jika anda seorang guru mungkin sudah sering mendengar kata-kata seperti ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani yang menjadi jiwa dari pendidikan nasional. Menurut Ki Hajar Dewantara, mendidik dan mengajar adalah proses memanusiakan manusia, sehingga harus memerdekakan manusia dan segala aspek kehidupan baik secara fisik, mental, jasmani dan rohani. Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Ki Hajar Dewantara memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya

Ki Hajar Dewantara pernah berpesan “didiklah anak-anak kita dengan cara yang sesuai dengan tuntutan dan zaman nya sendiri, selain itu yang paling penting anak-anak perlu diperkenalkan dengan adat istiadat yang ada di bangsa kita bangsa Indonesia”, maka dari itu adat istiadat ialah petunjuk penting dalam kehidupan bangsa dan bernegara di masa sekarang. Tujuan pendidikan yaitu “menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat” (Dewantara, 1961: 20).   jika kita melihat lagi tujuan pendidikan Ki Hajar Dewantara dengan pendidikan sekarang masih belum bisa dikatakan optimal karena banyak sekali kasus pendidikan di era sekarang seperti siswa yang meminum-minuman keras pada jam sekolah, kasus pembunuhan antar siswa , kasus pembullyan yang semakin meningkat setiap harinya dan lain sebagainya. Kasus-kasus seperti ini sering terjadi di era zaman sekarang akibat dari kurangnya pemahaman kita baik itu guru, keluarga, dan masyarakat tentang konsep ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Dimana Ing ngarso sung tuladho artinya maka orang tua atau guru sebagai suri tauladan anak dan siswa , Ing madya mangun karso artinya yang ditengah memberikan semangat ataupun ide-ide yang mendukung dan Tut wuri handayani yang dibelakangan memberikan motivasi.

Dalam implementasinya teladan ini bisa jadi para pemimpin , tenaga pengajar, dan siapa pun yang dapat memberikan contoh yang baik terhadap siapa pun pengikutnya. Selain itu dengan adanya kasus-kasus seperti itu sudah seharusnya sekolah menjadi tempat pendidikan berkonsep kekeluargaan dimana hubungan antara guru dan siswa harus benar-benar seperti keluarga, anak-anak harus di rangkul, dituntun agar anak bisa menemukan dirinya. Seperti sistem pendidikan yang dilakukan menurut Ki Hajar Dewantara yaitu menggunakan sistem Among atau Among Methode yang artinya guru itu menjaga, membina dan menididk anak kasih sayang. Selain itu juga keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang penting untuk melindungi keselamatan dan kebahagian anak-anaknya dalam hidup baik itu unsur budi pekerti, kesusilaan dan sosial.

Maka dari itu sekarang ini Kemendikbudristek melakukan penyederhanaan kurikulum dalam kondisi khusus (kurikulum darurat) untuk memitigasi ketertinggalan pembelajaran (learning loss) pada masa pandemi. Mengutip laman Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam. Di mana konten pembelajaran akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Kurikulum ini juga merupakan langkah terobosan untuk membantu guru dan kepala sekolah mengubah proses belajar menjadi jauh lebih relevan, mendalam, menyenangkan dan Kurikulum yang berpusat pada peserta didik. Dengan adanya kurikulum merdeka peserta didik dan guru dibebaskan dalam mengembangkan bakat dan keterampilan dalam dirinya. Kurikulum Merdeka belajar menekankan juga pada aspek pengembangan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai bangsa indonesia. Maka dari itu harapan besar pada kurikulum merdeka belajar ini supaya bisa mewujudkan cita-cita para leluhur bangsa. Selain itu untuk mewujudkn cita-cita leluhur dalam memajukan pendidikan di Indonesia Kemendikbud juga membuat suatu progam yaitu Program Profesi Guru (PPG) yang diharapkan dapat melahirkan guru-guru profesional.

 


Komentar